My Writings. My Thoughts.

Duo Bomber Tewas di Kos-kosan, Diduga Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir

On » Minggu, 11 Oktober 2009 //
Jakarta - Surya- Pasukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menggerebek rumah persembunyian teroris di Jl Semanggi II, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (9/10) siang. Dalam penyergapan disertai tembakan dan ledakan itu, dua orang ditembak mati. Keduanya diduga bomber kakak beradik, Mohamad Syahrir, 38, dan Syaifudin Zuhri,32.

Penggerebekan dimulai sekitar pukul 11.00 WIB, sebelum tiba waktu salat Jumat. Sasarannya adalah rumah kos dua lantai di Jl Semanggi II RT 2 RW 3 Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat. Di rumah kos yang berisi 16 kamar itu, tim Densus telah mengendus dua teroris tersebut berada di kamar nomor 15 di lantai II.

Menurut Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna, dua buron teroris itu terpaksa ditembak mati. Pasalnya, dua orang yang diduga kuat Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir itu mencoba menyerang petugas dengan cara melemparkan bom pipa.

“Dengan terpaksa kita tembak karena mereka berusaha menyerang petugas dengan melemparkan tiga buah bom,” kata Irjen Nanan Soekarna dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (9/10) pukul 18.50 WIB.

Nanan mengatakan, teroris yang menghuni kamar kos milik Haji Jatna itu menyimpan 10 bom. Tiga di antaranya digunakan untuk menyerang tim Densus yang akan membekuk mereka. “Tujuh bom bakar kecil ditemukan di kamar mereka,” kata Nanan.
Nanan menegaskan, polisi belum bisa memastikan identitas dua tersangka teroris yang tewas karena masih harus menunggu hasil tes forensik. “Senin akan disampaikan secara forensik tentang identitas keduanya,” kata Nanan Soekarna.
Nanan mengatakan, dugaan bahwa kedua tersangka teroris yang ditembak di sebuah rumah kos itu adalah Syaifudin Zuhri dan Syahrir alias Aing berdasarkan informasi yang diterima polisi dari sejumlah saksi. “Untuk kepastiannya Senin,” katanya.

Namun sejumlah sumber di kepolisian memastikan keduanya adalah duo bomber Syaifudin Zuhri dan Syahrir. “Keduanya tewas. Si twins bomber,” sebut sumber yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui di lokasi penggerebekan, sekitar 300 meter belakang kampus UIN Syarif Hidayatullah.

Apalagi pihak keluarga Syaifudin Zuhri dan Syahrir juga mengaku telah menerima pemberitahuan dari polisi tentang tewasnya dua teroris tersebut. “Keluarga di rumah dihubungi dari kepolisian di Jakarta. Polisi bilang dua-duanya katanya sudah meninggal,” kata adik Syaifudin dan Syahrir, Sucihani saat dihubungi melalui telepon, Jumat (9/10).

Menurut Sucihani, hingga kini keluarga masih merasa terkejut atas kabar tersebut. “Belum dipanggil ke Jakarta, untuk sidik jari atau lainnya belum ada kabar,” jelas istri Ibrohim, florist Hotel Ritz-Carlton yang tewas dalam penggerebekan Densus 88 di Temanggung, Jawa Tengah.

Syaifudin Zuhri dan Syahrir adalah dua dari empat orang yang diumumkan dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buron oleh Mabes Polri, 19 Agustus 2009 lalu.

Dua orang lainnya adalah Bagus Budi Pranoto alias Urwah dan Ario Sudarso alias Aji. Dua nama terakhir tewas dalam penggerebekan di Solo yang juga menewaskan gembong teroris Noordin M Top. Mereka diburu karena terlibat peledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton, 17 Juli 2009 lalu.
Syaifudin bin Djaelani Irsyad alias Ustad Syaifudin Zuhri alias Udin alias Soleh, yang ahli merekrut pelaku bom bunuh diri, juga adalah kakak ipar Ibrohim, teroris yang tewas dalam penggerebekan di Temanggung, Jateng beberapa waktu lalu.

Tembakan dan Ledakan
Penggerebekan rumah kos di Jl Semanggi kemarin diawali dengan pengintaian sejak Kamis (8/10) malam. Sekitar 25 anggota Densus 88 menginap di Wisma Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, yang dekat dengan sasaran penggerebekan.

Baru sekitar pukul 11.00 WIB, Jumat, puluhan anggota Densus mulai mengepung rumah kos yang kebanyakan ditempati mahasiswa UIN tersebut.

Setengah jam kemudian terdengar sedikitnya 10 kali suara tembakan. Tim Densus bersenjata laras panjang merangsek ke lantai dua, letak kamar dua buronan polisi tersebut. Di rumah itu ada 16 kamar, 5 kamar di antaranya di lantai II. Kedua teroris menempati kamar nomer 15 di lantai II.

“Kos-kosan dua lantai itu dikepung sekitar 25 orang anggota Densus 88,” kata Iwan Wahyudi, seorang saksi mata di sekitar lokasi penggerebekan yang berada di ujung Lapangan Semanggi, belakang kampus Bina Sarana Informatika (BSI), Ciputat itu.

Selain suara tembakan, juga terdengar beberapa kali ledakan. Mulyo, 55, warga yang tinggal 50 meter dari lokasi, mengatakan saat itu terjadi ledakan satu kali lalu berlanjut ledakan beruntun beberapa kali. “Waktu itu saya lagi mau ambil air wudhu buat salat Jumat. Kaget ada ledakan, kita panik. Terus semua warga disuruh keluar. Polisi udah banyak di sekitar kos,” ucap dia.

Ledakan itu dimungkinkan sebagai perlawanan dua teroris tersebut yang melempar polisi dengan dua bom pipa. “Waktu penggerebekan, dua orang yang di dalam rumah melempari bom pipa ke petugas sebanyak dua kali,” kata sumber di kepolisian.

Namun, kata dia, bom itu hanya mengenai dinding. “Cuma kena dinding, mengakibatkan dindingnya jebol. Petugas kemudian menyergapnya dengan mengeluarkan tembakan,” ujar dia.
Akibat perlawanan duo bomber itu, ada juga polisi yang terluka. “Saya sempat lihat polisi itu kemudian dievakuasi ke tempat yang aman,” kata seorang penghuni kos bernama Ryan.

“Sekitar pukul 12.00 WIB kemudian ada ambulans yang membawa dua jenazah,” katanya.

Diawali Penangkapan FR
Jejak Syaifudin Zuhri dan Syahrir ternyata sudah terendus sejak lama. Keberadaan keduanya mulai terendus sejak di Kuningan dan Bogor, Jawa Barat. “Jejak mereka sudah terendus sejak di Kuningan dan Bogor,” kata sumber di Mabes Polri.

Menurut sumber ini, jaringan mereka tidak pernah keluar wilayah Jawa Barat. “Mereka membangun jaringan di wilayah Jawa Barat saja, di antaranya Kuningan dan Bogor,” pungkasnya.
Sebelum menggerebek rumah kos di Jl Semanggi II, Ciputat itu, tim Densus 88 lebih dulu menangkap pria berinisial FR. Dari FR inilah diperoleh informasi keberadaan dua orang yang diduga Syaifuddin Zuhri dan M Syahrir di kos bertarif Rp 432.000/bulan tersebut.

“Tersangka FR ditangkap hidup, sehingga kita bisa telusuri keberadaan Zuhri dan Syahrir,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna dalam jumpa pers di Mabes Polri.

Nanan mengatakan, FR diciduk pada pagi hari di Bekasi, Jawa Barat. Sementara penggerebekan terhadap dua orang yang diduga Zuhri dan Syarir dilakukan sekitar pukul 11.00 WIB.
FR disebut-sebut sebagai Fajri. Namun, sumber di kepolisian mengatakan FR adalah nama inisial dari Fajar. Pria tersebut ternyata memiliki hubungan darah dengan Syaifudin Zuhri dan Syahrir. “FR itu orang baru, dia adik Syahrir,” kata Nanan Soekarna.

Nanan mengatakan, FR merupakan orang yang menyewa kamar kos bertarif Rp 432.000/bulan yang digerebek Densus 88. Apa status FR? Polisi baru akan menetapkannya 7 hari mendatang. “Tujuh hari statusnya baru jadi tersangka,” jelas mantan Kapolda Sumatera Utara (Sumut) itu.

Usai penggerebekan, sekitar pukul 14.15 WIB Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD) meninjau lokasi penggerebekan. BHD didampingi Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanegara, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna dan Kapolda Metro Jaya Irjen Wahyono.

Hanya sekitar 10 menit rombongan Kapolri meninjau TKP, setelah itu meninggalkan lokasi. Saat diajukan sejumlah pertanyaan, Kapolri hanya mengacungkan jempolnya.

Pukul 14.30 WIB, dua jenazah teroris tersebut dibawa meninggalkan lokasi penggerebekan, menggunakan dua mobil jenazah. Setiap jenazah dimasukkan ke dalam kantung jenazah berwarna kuning. Kedua jenazah dibawa ke RS Polri, Jakarta

No Response to "Duo Bomber Tewas di Kos-kosan, Diduga Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir"

Leave A Reply

My videos. Featured videos.

Anda Pengunjung ke